²©²ÊÍøÕ¾

Suhu Panas Mendidih, Lakukan Ini agar Anak Tak Mudah Sakit

Rindi Salsabilla, ²©²ÊÍøÕ¾
10 October 2023 17:15
Seorang anak mendinginkan badan saat gelombang panas melanda di air mancur di pusat kota Montpellier, Prancis selatan, Selasa (14/6/2022). (Photo by PASCAL GUYOT/AFP via Getty Images)
Foto: Seorang anak mendinginkan badan saat gelombang panas melanda di air mancur di pusat kota Montpellier, Prancis selatan, Selasa (14/6/2022). (Photo by PASCAL GUYOT/AFP via Getty Images)

Jakarta, ²©²ÊÍøÕ¾ - Beberapa waktu belakangan ini, sebagian besar wilayah di Indonesia dilanda cuaca panas dan terik akibat musim kemarau.

Terbaru, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa Kertajati, Majalengka, Jawa Barat adalah kota terpanas di Indonesia dengan catatan suhu tertinggi 38,7 derajat Celsius per Selasa (10/10/2023) pagi.

Menurut prediksi BMKG, cuaca panas dan terik di beberapa wilayah masih dapat berlangsung selama Oktober 2023.

Berkaitan dengan hal tersebut, dokter sekaligus epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengungkapkan bahwa cuaca panas berisiko tinggi terhadap dua kelompok, yakni anak-anak dan lanjut usia (lansia).

"Gelombang panas atau heat waves dan cuaca panas atau hot weather bisa memberikan dampak signifikan dan buruk terhadap kesehatan, terutama pada kelompok yang rawan (anak-anak dan lansia)," ujar Prof. Dicky kepada ²©²ÊÍøÕ¾, Senin (9/10/2023).

Warga berjalan di sekitar Halte Tosari saat Hari Kulminasi Utama yang jatuh pada pukul 11.40 WIB di Jakarta, Senin (9/10/2023). Hari Kulminasi Utama atau fenomena Hari Tanpa Bayang merupakan posisi dimana matahari berada di posisi tertinggi. (²©²ÊÍøÕ¾/Faisal Rahman)Foto: Suhu panas di Jakarta (²©²ÊÍøÕ¾/Faisal Rahman)

Ìý

"Kelompok rawan ini umumnya sangat sensitif terhadap suhu panas ekstrem akibat kondisi fisiologis yang berbeda dengan manusia pada umumnya, misalnya dewasa muda," imbuhnya.

Prof. Dicky mengatakan, anak-anak dan lansia memiliki kemampuan yang terbatas dalam beradaptasi dengan perubahan temperatur. Akibatnya, dua kelompok tersebut rentan terhadap penyakit.

Sebagai contoh, anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami dehidrasi karena memiliki metabolic rate atau metabolisme tubuh untuk memproses energi yang lebih tinggi daripada orang dewasa muda.

"Selain itu, anak-anak juga memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk meregulasi suhu tubuh. Kemudian, selama mengalami dampak atau suhu cuaca panas mereka bisa sangat cepat kehilangan cairan," jelas Prof. Dicky.

Selain dehidrasi, Prof. Dicky juga mengatakan bahwa anak-anak rentan mengalami heat stroke atau peningkatan suhu tubuh secara ekstrem dan mendadak akibat cuaca panas.

Ia mengatakan, heat stroke lebih rentan terjadi pada anak-anak karena sistem pengaturan suhu di dalam tubuh masih belum terbentuk dengan sempurna.

"Masalah ketiga [akibat cuaca panas] adalah masalah saluran napas. Suhu cuaca panas itu mendukung timbulnya perburukan infeksi atau penyakit saluran napas pada anak," kata Prof. Dicky.

"Apalagi ditambah dengan buruknya kualitas udara yang seringkali dikaitkan dengan gelombang panas yang bisa menyebabkan semakin memburuknya kualitas udara," lanjutnya.

Terakhir, risiko yang mengintai anak-anak akibat cuaca panas adalah penyakit infeksi akibat nyamuk atau kutu. Menurut Prof. Dicky, cuaca panas adalah situasi yang mendukung proses perkembangbiakan hewan-hewan penyebab penyakit tersebut.

Pejalan kaki menggunakan payung untuk menghindari terik matahari di kawasan Jembatan Pinisi di halte busway Karet, Jakarta, Rabu (27/9/2023). (²©²ÊÍøÕ¾/Muhammad Sabki)Foto: Pejalan kaki menggunakan payung untuk menghindari terik matahari di kawasan Jembatan Pinisi di halte busway Karet, Jakarta, Rabu (27/9/2023). (²©²ÊÍøÕ¾/Muhammad Sabki)

"Panas itu akan memfasilitasi proliferasi dari penyakit faktor, seperti nyamuk ataupun kutu. Jadi meningkat karena mereka masa berkembang biaknya menjadi lebih aktif juga lebih panjang," jelas Profesor di bidang global health security itu.

"Nah, ini juga akhirnya meningkatkan risiko pada anak. Apalagi nyamuk atau kutu ini, kan, di Indonesia menjadi satu kondisi yang lazim ditemui," lanjut Prof. Dicky.

Menurut Prof. Dicky, ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh orang tua untuk menghindari risiko penyakit pada anak akibat cuaca panas, yakni.

  1. Pastikan anak rajin mengonsumsi air mineral meskipun tidak dalam keadaan haus

  2. Upayakan anak untuk selalu berada di dalam ruangan yang sejuk

  3. Kurangi waktu beraktivitas anak di luar ruangan

  4. Jika beraktivitas di luar ruangan, pastikan anak menggunakan pelindung tambahan (topi, payung, dan kacamata hitam)

  5. Gunakan pakaian yang nyaman, tidak ketat, dan berwarna putih

  6. Pastikan anak untuk selalu menggunakan tabir surya (sunscreen)

"Pastikan anak menggunakan pakaian yang sesuai dan tidak menyerap panas. Biasanya, anak disarankan untuk memakai baju berwarna putih dan tidak ketat agar tetap nyaman beraktivitas," ujar Prof. Dicky.

"Kemudian, ya, tentu kurangi aktivitas anak di luar ruangan. Terutama di masa puncak panas, yakni antara jam 10.00 pagi hingga 16.00," tegasnya.


(hsy/hsy) Next Article 3 Kelompok Orang yang Paling Menderita saat Suhu Panas

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular