²©²ÊÍøÕ¾

Awas, Banyak Iklan Penipuan Tawaran Paylater & Naik Limit Kartu Kredit

Romys Binekasri, ²©²ÊÍøÕ¾
10 December 2024 10:30
Ilustrasi Buy Now Pay Later
Foto: Ilustrasi Buy Now Pay Later

Jakarta, ²©²ÊÍøÕ¾ - Kebutuhan pendanaan masyarakat kerap kali dimanfaatkan oleh para penipu. Para pengguna paylater dan kartu kredit sering menjadi mangsa penipuan modus social engineering.

Mengutip website resmi BCA, pada pengguna kartu Kredit BCA sering kali dihubungi melalui telepon atau sarana aplikasi lainnya seperti Whatsapp, Line, Facebook, dll dimana penelepon mengaku sebagai pihak bank

"Calon korban yang merupakan pengguna kartu kredit BCA / card holder (CH) dihubungi oleh pihak yang mengaku pihak BCA/Bank/ lainnya," tulisnya dikutip Selasa (10/12).

Disebutkan, pemilik kartu kredit akan dibuat merasa yakin bahwa si penelepon merupakan dari pihak bank. "Apalagi, terkadang nasabah dihubungi dari nomor yang mirip dengan kontak Halo BCA, atau nomor yang mengaku dari Telemarketing resmi BCA," imbuhnya.

Selain dihubungi lewat telepon atau WhatsApp, penipu juga mengincar korban lewat media sosial khususnya Instagram, berupa iklan tawaran naik limit kartu kredit atau upgrade kartu kredit.

"Modus yang umum terjadi adalah penawaran upgrade limit kartu kredit BCA menjadi lebih tinggi, atau penawaran kartu kredit tambahan," sebutnya.

Si penipu akan memberikan iming-iming hadiah atau syarat mudah agar nasabah tertipu. Ada juga variasi penawaran lainnya, misal bebas uang iuran tahunan, claim reward dan voucher diskon belanja online.

Terkadang, penipu juga membuat kepanikan pemilik kartu kredit dengan menginformasikan bahwa terdapat transaksi mencurigakan pada kartu kredit korban dan akan dibantu pembatalan atau blokir transaksi.

Selanjutnya, penipu akan meminta pemilik kartu kredit untuk mengisi formulir yang dikirimkan ke CH melalui email atau sms atau wa, bahkan secara lisan berupa data pribadi perbankan yang sifatnya rahasia, seperti nomor kartu kredit, expire date, CVV atau CVC, OTP, dan lainnya.

"Pemilik kartu kredit terpengaruh dan memberikan data OTP kepada fraudster (pemberian data ini bisa juga melalui link palsu yang diberikan fraudster maupun disampaikan secara lisan)," ungkapnya.

Jika pemilik kartu kredit memberikan data tersebut, penipu berhasil mengakses kartu kredit korban untuk digunakan melakukan transaksi online secara ilegal.


(ayh/ayh) Next Article Serupa tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Kartu Kredit, Paylater, & Pinjol

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular