վ

Gaji Pilot di Indonesia Capai Rp 60 Juta-Rp 150 Juta/Bulan

Raydion Subiantoro & Exist In Exist, վ
24 January 2018 17:31
Kementerian Perhubungan akan mengurangi jumlah sekolah penerbangan di Indonesia agar tidak lagi terjadi kelebihan pasokan pilot
Foto: Muhammad Sabki
Jakarta, վ – Industri penerbangan nasional saat ini kelebihan pasokan penerbang. Dari sekitar 2.000 pilot di Indonesia, yang mengganggur mencapai hampir 30% atau sebanyak 556 pilot.

Penghasilan pilot setiap bulannya tergolong tinggi di republik ini, membuat cukup banyak orang ingin menjadi penerbang. Hal ini kemudian membuat bisnis sekolah penerbangan tumbuh menjadi 20 sekolah, yang dinilai Kementerian Perhubungan sudah terlalu banyak.

Adapun bergeliatnya industri penerbangan nasional, yang kemudian diikuti juga dengan bermunculannya sekolah penerbang, dimulai sejak deregulasi penerbangan pada tahun 2000. Melalui deregulasi itu, pemerintah mempermudah perizinan terbentuknya suatu maskapai.

Lalu, sebetulnya berapa gaji profesi pilot di Indonesia?

Garuda Indonesia menginformasikan, penghasilan total pilot pemula dapat mencapai Rp 60 juta sudah termasuk berbagai tunjangan. Penghasilan akan semakin meningkat bergantung dari jam terbang.

Apabila seorang pilot sudah senior, Garuda dapat memberikan penghasiilan berkisar Rp 100 juta hingga Rp 150 juta.


Senior Manager Public Relations PT Garuda Indonesia Tbk Ikhsan Rosan mengatakan saat ini jumlah penerbang di perseroan sekitar 1.300 pilot.

“Armada pesawat Garuda ada 144 unit dengan frekuensi penerbangan 630 penerbangan setiap harinya,” jelasnya, Rabu (24/01/2018).

Dengan kondisi itu, jelas Ikhsan, jumlah pilot saat ini sudah cukup untuk mengoptimalkan seluruh armada meski cukup ketat perihal jam terbang.

Sementara itu, Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin mengatakan gaji pokok pilot pemula berkisar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Menurutnya, gaji juga bervariasi bergantung dari keahlian pilot, apakah bisa menerbangi pesawat berbadan lebar (wide body) atau berbadan sedang (narrow body).

Dia menuturkan jumlah sekolah pilot memang tidak perlu terlalu banyak, yang terpenting adalah kualitas lulusannya.

Di samping itu, Tengku juga mengatakan maskapai tidak bisa dipaksakan untuk menyerap seluruh lulusan sekolah penerbangan karena bergantung dari kebutuhan dan kualifikasi yang dibutuhkan.

“Lulusan sekolah penerbangan juga harus berkompetisi, maskapai juga lebih mencari yang siap terbang. Kalau baru lulus kan belum ada rating dan sebagainya. Maskapai juga tidak bisa dipaksa mempekerjakan pilot yang mengganggur, sama saja misalnya apakah lulusan IPB (Institut Pertanian Bogor) harus kerja di pertanian?” katanya.


Sementara itu, CEO Indonesia AirAsia Dendy Kurniawan mengatakan sebaiknya maskapai menjalin kerja sama dengan sekolah penerbangan untuk menghindari adanya kelebihan pasokan pilot.

Airlines memang sudah selayaknya bekerja sama dengan flying school sehingga bisa dipersiapkan sejak dari waktu pendidikan di flying school. Kebetulan kami punya akademi pelatihan sendiri di Kuala Lumpur, akan tetapi tetap membuka peluang kerjasama dengan flying school di Indonesia,” ujarnya.

Managing Director Lion Air Group Daniel Putut menuturkan saat ini perusahaan tidak kekurangan pilot, namun tetap membahas arahan Menteri Perhubungan agar maskapai dapat menyerap pilot yang saat ini masih menganggur.

"Sedang kita diskusikan mekanismenya seperti apa nantinya. Kami tidak ada kekurangan Pilot, hanya jumlah sesuai index regulator. Cuma untuk rencana penambahan pesawat akan dibutuhkan tambahan pilot," ujar Daniel.
(ray/ray) Next Article Garuda Gandeng Pilot Militer, Ini Kata Menhub

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular