
Konversi BBG Mati Suri Bertahun-tahun, Masih Sekedar 'Omdo'

Jakarta, ²©²ÊÍøÕ¾ - Beberapa tahun lalu pemerintah sempat menggencarkan program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG). Tujuannya tak lain yaitu untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM, sementara pasokan gas di dalam negeri melimpah.
Namun sayangnya, fenomena itu hanya sekejap mata. Bus Transjakarta, taksi-taksi, bahkan kendaraan dinas pemerintah yang tadinya didorong menggunakan BBG, malah berkhianat dengan kembali menggunakan BBM. Padahal, beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) juga sudah dibangun.Â
Terkait mandeknya program BBG ini, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Suko Hartono pun turut angkat bicara.
Suko mengatakan, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam menjalankan program BBG saat ini, antara lain belum terintegrasinya antara peraturan yang ada dengan badan usaha yang menjalankannya, serta ketersediaan dan keterjangkauan harga alat konversi BBM ke BBG.
"Aturan dan badan usahanya harus terintegrasi. Selain peraturan, alat-alat konversi juga perlu jadi perhatian kita semua. Itu kira-kira yang menjadi tantangan," tuturnya di Jakarta pada Senin lalu (19/04/2021).
Selain itu, lanjutnya, program BBG susah berjalan terutama bagi kendaraan dengan rute yang sembarang, acak dan luas. Seperti yang rencananya diterapkan pada taksi. Menurutnya ini menjadi tidak tepat dan tidak berjalan karena jalurnya tidak pasti. Ditambah dengan keterbatasan SPBG, maka akan menyulitkan pengisian bahan bakar.
"Kalau dulu kan taksi, rasanya tidak mungkin, kurang pas," ujarnya.
Untuk itu, dia menyarankan agar program BBG ini diberlakukan bagi kendaraan yang rutenya sudah jelas dari satu titik ke titik lainnya (point to point) dan dengan lokasi yang lebih kecil.
"Lebih baik public transport yang point to point saja, misalnya jalurnya sudah pasti dari A ke B," ujarnya.
Seperti diketahui, program konversi ke BBG ini sudah digaungkan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, pada periode Menteri ESDM dijabat oleh Jero Wacik pada 2013 lalu, Jero Wacik sempat menuturkan dirinya ingin membuktikan bahwa program konversi BBM ke BBG ini bukan hanya "omdo" (omong doang) atau sekedar wacana.
"Di Komisi VII kalau kami rapat kerja dulu pada awal-awal saya menjadi Menteri ESDM, selalu dikatakan bahwa Pemerintah kita mau menggunakan gas ini "omdo", omong doang, tidak kerja-kerja, merah kuping saya waktu baru jadi Menteri ESDM," ujar Menteri ESDM, Jero Wacik mengawali sambutannya diacara peresmian SPBG perdana milik PT PGN (Persero) di Bekasi, Selasa (24/12/2013), seperti dikutip dari situs Ditjen Migas Kementerian ESDM.
Ditambahkannya, "pikiran yang ideal, yang benar, dan cocok pindah ke gas kok omong doang, jadi saya tidak mau dicap sebagai Menteri yang omong doang, maka mari kita kerjakan itu, do it, kita kerjakan konversi dari BBM ke BBG, kita kerjakan."
Tapi sayang Pak Wacik, hingga kini program BBG ini memang terlihat hanya sebatas "omdo".
(wia) Next Article Biar Ga Cuma 'Omdo', Ini Terobosan BBG Bisa Hidup Lagi