
Asing Masuk Rp 400 M Lebih, IHSG Malah Turun 0,4%
Anthony Kevin, ²©²ÊÍøÕ¾
14 January 2019 17:09

Jakarta, ²©²ÊÍøÕ¾ - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pertama di pekan ini dengan pelemahan sebesar 0,4% ke level 6.336,12. Kinerja IHSG senada dengan bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan di zona merah: indeks Shanghai turun 0,71%, indeks Hang Seng turun 1,38%, indeks Straits Times turun 0,61%, dan indeks Kospi turun 0,53%.
Rilis data perdagangan internasional China merupakan hal utama yang memantik aksi jual di kawasan regional. Pada Senin pagi ini, ekspor diumumkan tumbuh sebesar 9,9% pada tahun 2018, sementara impor melesat 15,8%. Pertumbuhan ekspor yang sebesar 9,9% menjadi yang tertinggi sejak 2011, seperti dilansir dari ²©²ÊÍøÕ¾ International.
Namun, kuatnya ekspor lebih disebabkan oleh aksi front loading untuk mengantisipasi bea masuk lebih tinggi yang diberlakukan oleh AS. Oleh karenanya, pelaku pasar tak merespons hal tersebut dengan positif.
Hal ini dibuktikan oleh surplus dagang dengan AS yang mencapai US$ 323,32 miliar, tertinggi sejak 2006. Ekspor ke AS melesat 11,3%, sementara impor dari Negeri Paman Sam hanya naik tipis 0,7%.
Hingga kini, belum ada kesepakatan hitam di atas putih yang ditandatangani AS dan China di bidang perdagangan. Kesepakatan yang ada masih berupa komitmen sehingga sangat mungkin untuk dilanggar dan mengeskalasi perang dagang yang selama ini berkecamuk.
Pada 3 hari pertama pekan lalu (7-9 Januari), AS dan China menggelar negosiasi dagang setingkat wakil kementerian di Beijing. Pascapertemuan rampung digelar, US Trade Representatives (USTR) mengatakan bahwa China berkomitmen membeli lebih banyak produk asal Negeri Paman Sam, mulai dari produk pertanian, energi, hingga manufaktur.
Selain itu, gaduh politik di AS dan Inggris membuat investor kian gencar melepas instrumen berisiko seperti saham. Hingga kini, terhitung sudah 23 hari sebagian pemerintahan AS berhenti beroperasi (partial government shutdown), menjadikannya yang terpanjang di era modern.
Shutdown kali ini terjadi lantaran partai Republik dan Demokrat tak mampu menyepakati anggaran belanja negara, seiring dengan adanya ketidaksepahaman mengenai anggaran untuk pembangunan infrastruktur perbatasan AS-Meksiko.
Berdasarkan perhitungan lembaga pemeringkat kenamaan dunia S&P Global Ratings, jika pemerintahan AS lumpuh selama 2 minggu lagi (terhitung sejak hari Jumat, 11/1/2019), maka kerugian yang ditanggung oleh perekonomian AS akan mencapai lebih dari US$ 6 miliar atau lebih besar dari anggaran tembok perbatasan AS-Meksiko senilai US$ 5,7 miliar yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.
Hingga hari Jumat, perekonomian AS disebut sudah menanggung kerugian senilai US$ 3,6 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan kerugian yang berkaitan dengan shutdown seperti hilangnya produktivitas dari pekerja yang dirumahkan dan penurunan penjualan dari para kontraktor ke pemerintah.
Selain di AS, gaduh politik juga kental terasa di Inggris. Pada 15 Januari mendatang, pemungutan suara di parlemen terkait dengan proposal Brexit yang sudah disepakati pemerintahan Perdana Menteri Theresa May dengan Uni Eropa akan digelar. Kemungkinan besar, proposal ini akan ditolak oleh parlemen.
May mengingatkan bahwa apabila proposal Brexit tidak disetujui maka akan menjadi sebuah bencana besar. Inggris terancam keluar dari Uni Eropa tanpa kompensasi apa-apa alias No Deal Brexit.
"Melakukan itu [menolak proposal Brexit]Â akan menjadi bencana dan pengkhianatan besar terhadap demokrasi. Pesan saya kepada parlemen sederhana saja, lupakan permainan (politik) dan lakukan yang benar untuk negara ini," tegas May dalam kolom di Sunday Express.
Apabila No Deal Brexit sampai terjadi, dampaknya tidak main-main. Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memperkirakan No Deal Brexit bisa menyebabkan ekonomi Negeri Ratu Elizabeth terkontraksi hingga 8% pada tahun ini.
Rilis data perdagangan internasional China merupakan hal utama yang memantik aksi jual di kawasan regional. Pada Senin pagi ini, ekspor diumumkan tumbuh sebesar 9,9% pada tahun 2018, sementara impor melesat 15,8%. Pertumbuhan ekspor yang sebesar 9,9% menjadi yang tertinggi sejak 2011, seperti dilansir dari ²©²ÊÍøÕ¾ International.
Namun, kuatnya ekspor lebih disebabkan oleh aksi front loading untuk mengantisipasi bea masuk lebih tinggi yang diberlakukan oleh AS. Oleh karenanya, pelaku pasar tak merespons hal tersebut dengan positif.
Hingga kini, belum ada kesepakatan hitam di atas putih yang ditandatangani AS dan China di bidang perdagangan. Kesepakatan yang ada masih berupa komitmen sehingga sangat mungkin untuk dilanggar dan mengeskalasi perang dagang yang selama ini berkecamuk.
Pada 3 hari pertama pekan lalu (7-9 Januari), AS dan China menggelar negosiasi dagang setingkat wakil kementerian di Beijing. Pascapertemuan rampung digelar, US Trade Representatives (USTR) mengatakan bahwa China berkomitmen membeli lebih banyak produk asal Negeri Paman Sam, mulai dari produk pertanian, energi, hingga manufaktur.
Selain itu, gaduh politik di AS dan Inggris membuat investor kian gencar melepas instrumen berisiko seperti saham. Hingga kini, terhitung sudah 23 hari sebagian pemerintahan AS berhenti beroperasi (partial government shutdown), menjadikannya yang terpanjang di era modern.
Shutdown kali ini terjadi lantaran partai Republik dan Demokrat tak mampu menyepakati anggaran belanja negara, seiring dengan adanya ketidaksepahaman mengenai anggaran untuk pembangunan infrastruktur perbatasan AS-Meksiko.
Berdasarkan perhitungan lembaga pemeringkat kenamaan dunia S&P Global Ratings, jika pemerintahan AS lumpuh selama 2 minggu lagi (terhitung sejak hari Jumat, 11/1/2019), maka kerugian yang ditanggung oleh perekonomian AS akan mencapai lebih dari US$ 6 miliar atau lebih besar dari anggaran tembok perbatasan AS-Meksiko senilai US$ 5,7 miliar yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump.
Hingga hari Jumat, perekonomian AS disebut sudah menanggung kerugian senilai US$ 3,6 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan kerugian yang berkaitan dengan shutdown seperti hilangnya produktivitas dari pekerja yang dirumahkan dan penurunan penjualan dari para kontraktor ke pemerintah.
Selain di AS, gaduh politik juga kental terasa di Inggris. Pada 15 Januari mendatang, pemungutan suara di parlemen terkait dengan proposal Brexit yang sudah disepakati pemerintahan Perdana Menteri Theresa May dengan Uni Eropa akan digelar. Kemungkinan besar, proposal ini akan ditolak oleh parlemen.
May mengingatkan bahwa apabila proposal Brexit tidak disetujui maka akan menjadi sebuah bencana besar. Inggris terancam keluar dari Uni Eropa tanpa kompensasi apa-apa alias No Deal Brexit.
"Melakukan itu [menolak proposal Brexit]Â akan menjadi bencana dan pengkhianatan besar terhadap demokrasi. Pesan saya kepada parlemen sederhana saja, lupakan permainan (politik) dan lakukan yang benar untuk negara ini," tegas May dalam kolom di Sunday Express.
Apabila No Deal Brexit sampai terjadi, dampaknya tidak main-main. Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memperkirakan No Deal Brexit bisa menyebabkan ekonomi Negeri Ratu Elizabeth terkontraksi hingga 8% pada tahun ini.
Next Page
Sektor Barang Konsumsi Tekan Laju IHSG
Pages
Tags
Related Articles
Recommendation

Most Popular