
Cadev RI Jeblok, Asing Berani Borong Saham BBCA Rp 100 M

Jakarta, ²©²ÊÍøÕ¾ - SahamÌýemiten bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)Ìýlangsung diborong asing hingga Rp 100,74 miliar di pasar regular pada penutupan sesi I, Senin (7/10/2019) dan menjadi pemimpin emiten dengan catatan net buyÌý(beli bersih) asing tertinggi.
Aksi beli investor asing pada hari ini membuat saham bank milik Grup Djarum iniÌýnaik tipis 0,58% di levelÌýRp 30.400/saham.
Data BEIÌýmencatat, nilai transaksi BCA hari ini sebesar RpÌý153,69 miliar dengan volume perdagangan 5,06 juta saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) Rp 749,51 triliun.
Dalam 5 hari perdaganganÌýterakhir, saham BBCA diborong asing Rp 392,85 miliar di semua pasar. Tapi dalam sebulan perdagangan terakhir, saham BBCAÌýmencatatkan net sell (jual bersih) asing RpÌý42,85 millarÌýdi semua pasar.
Sepanjang tahun ini atau year to date, saham BBCAÌýsudah dibeli asing hingga Rp 1,82 triliun. Nilai ini berasal dari sumbangan transaksi di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp 1,29 triliun, sisanya dari pasar reguler RpÌý530,13 miliar. Sementara saham BBCAÌýsecara year to date ²Ô²¹¾±°ìÌý17%.
Penguatan harga saham BBCAÌýdan net buy asing di saham bank ini juga terjadi di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang minus 0,50% di level 6.031. Padahal IHSG mengawali perdagangan pertama di pekan ini dengan apresiasi sebesar 0,27%, tapi kemudian indeks bertahan di zona hijau hanya sekitar 1,5 jam.
Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang ditransaksikan di zona hijau: indeks Straits Times menguat 0,66%, indeks Kospi naik 0,18%, sementara indeks Nikkei terkontraksi 0,21%.
AdapunÌýperdagangan di bursa saham China diliburkan guna memperingati 70 tahun lahirnya Republik Rakyat China, sementara perdagangan di bursa saham Hong Kong diliburkan seiring dengan perayaan Chung Yeung Festival.
Dari dalam negeri, sentimen negatif bagi pasar saham datang dari rilis angka cadangan devisa (cadev) oleh Bank Indonesia (BI). Per September 2019, BI mencatat cadangan devisa Indonesia berada di level US$ 124,3 miliar, turun US$ 2,1 miliar jika dibandingkan posisi per akhir Agustus yang senilai US$ 126,4 miliar.
BI menyebut bahwa penurunan cadangan devisa pada bulan lalu utamanya dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di bank sentral.
Dengan cadangan devisa yang menipis, praktis amunisi dari bank sentral untuk melakukan intervensi kala rupiah mendapatkan tekanan jual yang besar menjadi ikut menipis.
Simpelnya, rupiah akan menjadi lebih rentan untuk digoyang. Hingga siang hari ini, rupiah melemah 0,18% melawan dolar AS di pasar spot ke level Rp 14.155/dolar AS.
Ìý
(tas/tas) Next Article Wow! Saham BBCA Rekor Tertinggi, Market Cap Tembus Rp 1.004 T
